
Tahukah kamu kalau setiap 13 Februari diperingati sebagai Hari Radio Sedunia (World Radio Day)? Peringatan ini diinisiasi UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai bentuk terima kasih kepada para penyiar yang telah berkontribusi menemani pendengar setia mereka.
Di era gempuran dunia digital sekarang, siapa sangka ternyata radio masih eksis dan tetap bertahan. Saluran radio masih dengan mudah bisa kita akses untuk dinikmati di waktu luang. Tetapi, apakah keberadaan radio sekarang ini masih relevan mengingat sudah ada platform komunikasi lain yang lebih cepat, intuitif, dan mudah diakses?
Radio di Mata Generasi Z
Membicarakan radio di era digital ini akan lebih relate jika kita mencoba mengambil sudut pandang anak-anak Gen Z. Sebagai generasi yang lahir di era 2000-an ke atas, mereka tumbuh ketika informasi sudah berkembang pesat dan cepat. Anak Gen Z di masa remajanya sudah hidup di era internet dan media sosial. Tapi siapa sangka, ternyata masih ada Gen Z yang mengenal bahkan menjadi pendengar radio.
Salah satunya Meilinda Saputrie, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISA Yogyakarta. Sebagai Gen Z, memang yang terbayang di mata Meilinda ketika mengingat radio adalah kesan vintage atau teknologi yang sudah jadul. Meskipun begitu, Meilinda terkadang masih menikmati radio, terutama saat di perjalanan.
“Kalau dibandingkan dengan media komunikasi sekarang memang berat (untuk bersaing -pen). Tapi, menurut aku masih relevan banget buat teman chill, kayak buat perjalanan atau mungkin nugas biar gak sepi. Aku kadang di perjalanan masih suka putar radio. Salah satu kelebihan radio yaitu bikin mata gak capek melihat layar dan alurnya surprise,” ujar Meilinda, Rabu (11/2/2026).
Selain Meilinda, kami juga menemukan Anisya’ Futikhatul Ngilmi, atau akrab disapa Yongmi, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNISA Yogyakarta angkatan 2024. Yongmi memiliki hubungan yang lebih dalam dengan radio. Ia bercerita bahwa sejak kecil sudah bercita-cita menjadi seorang penyiar stasiun radio.
“Dulu cita-citanya pas kecil pengen jadi penyiar radio. Karena saya tuh suka ngomong tapi gak suka dilihat kalau pas ngomong. Radio tuh seperti teater tanpa panggung, teater tanpa layar. Di radio kita dibebaskan untuk berimajinasi,” ujar Yongmi.
Cerita Meilinda dan Yongmi menunjukkan bahwa radio masih bisa dinikmati oleh anak muda, termasuk Generasi Z yang lahir di tahun 2000-an ke atas. Meskipun kini peran radio sebagai media informasi dan hiburan sudah tergeser dengan hadirnya platform internet.
Radio Masih Relevan di Era Digital
Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi UNISA Yogyakarta, Alfian Muhazir, berpendapat radio akan selalu eksis dan relevan di era digital ini. Menurutnya, radio memiliki sesuatu yang tidak bisa digantikan oleh platform media digital di internet, di antaranya adalah kemudahan aksesibilitas serta rasa kedekatan dengan para pendengar.
“Di konvergensi media di era digital saat ini, radio itu masih bisa berdiri, tapi harus bisa menyesuaikan dengan perkembangannya (zaman). Salah satu keunggulan radio ini adalah ketangguhannya yang tidak lekang oleh waktu,” ujar Alfian.
Bagi Alfian, radio telah terbukti mampu bertahan di era begitu cepatnya transformasi teknologi. Menurutnya, radio bukanlah sebuah teknologi jadul atau sekadar kotak antik yang menjadi pajangan di sudut rumah. Radio membawa sebuah rasa kedekatan yang tak tergantikan, terlebih bagi para penikmat setianya yang tumbuh dengan sapaan hangat penyiar. Radio menjadi sebuah pelarian yang tepat di tengah jerat kebisingan dunia maya yang tidak ada habisnya.
“Dengan radio kita nantinya akan bernostalgia. Dengan radio kita merasakan rasa humanis karena mendengarkan suara manusia yang membuat lebih tentram, nyaman, dan menjadi teman kita di bisingnya dunia digital saat ini,” jelasnya.
Agar mampu eksis dan menjangkau penikmat baru di era digital ini, Alfian menganjurkan agar stasiun radio semakin gencar memanfaatkan platform internet sebagai medium penyiarannya. Dengan begitu, radio akan semakin mudah untuk dijangkau siapa pun di mana saja tanpa terkendala ketiadaan pesawat radio atau tidak terjangkaunya sinyal radio.
“Sekarang radio sudah banyak yang beralih ke internet. Dia menghasilkan podcast dan konten-konten media sosial lainnya, tanpa harus meninggalkan ciri khasnya sebagai radio,” ucap Alfian.
Saat ini radio masih memiliki segmen pendengar setianya. Radio masih dinikmati orang-orang dalam perjalanan, orang yang sedang belajar, dan para pekerja yang sedang melakukan aktivitasnya. Radio hadir memecahkan kesunyian dan memberikan rasa kedekatan dan humanis yang tidak didapat dari media sosial.
“Saya sendiri masih mendengarkan radio. Ada sudut intuisi suara manusia yang membedakan radio dengan streaming yang lain. Konten radio mampu menyentuh kita terutama dalam bernostalgia. Kadang ketika ingin menghindari sejenak hiruk-pikuk digitalisasi, saya kembali lagi mendengarkan radio dan bernostalgia di situ,” ujar Alfian menceritakan kedekatannya dengan radio.