Ilustrasi Ilmu Komunikasi Unisa Yogyakarta.
Ilustrasi Ilmu Komunikasi Unisa Yogyakarta.

 

Fotografi menjadi unsur yang tak terpisah dalam jurnalistik. Seorang jurnalis, dituntut untuk memahami cara mengambil foto yang baik. Sebuah foto jurnalistik harus bisa memberikan sebuah narasi atas berita atau isu yang sedang diangkat.

Agar menghasilkan foto yang kuat, fotografer jurnalistik memerlukan sebuah metode yang sistematis. Salah satu teknik paling populer adalah metode EDFAT.

Apa itu EDFAT?

EDFAT merupakan singkatan dari Entire, Detail, Frame, Angle, dan Time. Metode ini diperkenalkan oleh jurnalis tersohor di Amerika Serikat, Walter Cronkite. Dengan EDFAT, seorang fotografer jurnalistik akan dipandu untuk mengenal area sekitar dan terlatih melihat sesuatu dengan detail.

Metode EDFAT juga memberikan visual yang terstruktur dan sistematis, sehingga foto yang dihasilkan memiliki sebuah cerita dan memudahkan orang lain memahaminya.

1. Entire (Keseluruhan): Tangkap Gambaran Umum

Tahap pertama dalam metode EDFAT adalah mengambil gambar keseluruhan peristiwa. Tahap ini dikenal sebagai establishing shot. Foto entire berfungsi sebagai pembuka cerita, seperti paragraf pertama dalam berita.

Tips:
– Pastikan elemen utama tetap terlihat jelas meski dalam komposisi luas.
– Perhatikan latar belakang agar tidak mengganggu fokus cerita.
– Gunakan lensa wide untuk menangkap konteks.

2. Detail: Soroti Detail yang Menarik
Setelah mendapatkan gambaran umum, lanjutkan ke tahap detail. Detail adalah elemen kecil yang menguatkan emosi dan cerita peristiwa. Detail dapat berupa simbol, benda, atau ekspresi subjek.

Tips:
– Detail sering kali lebih “berbicara” daripada foto luas.
– Cari simbol, ekspresi wajah, atau gestur tangan.
– Gunakan aperture besar (f/2.8 – f/4) untuk efek depth of field.

3. Frame: Bingkai Objek dengan Komposisi yang Kuat

Frame adalah bagaimana fotografer membingkai subjek dalam komposisi foto. Komposisi yang kuat membuat pesan yang lebih mudah dipahami.

Tips:
– Gunakan teknik rule of thirds.
– Manfaatkan elemen alami seperti pintu, jendela, atau kerumunan sebagai frame.
– Hindari distraksi di tepi foto.

4. Angle: Pilih Sudut yang Bercerita

Angle adalah sudut pandang yang dipilih fotografer saat mengambil foto. Fotografer bisa memilih angle: eye level view, low angle, atau high angle.

Tips:
– Eye level, ambil foto normal yang mewakili penglihatan manusia, bermakna Netral dan informatif
– Low angle, mengambil foto dengan posisi lebih rendah, memberi kesan kuat atau heroik
– High angle, mengambil foto lebih tinggi dari objek, menunjukkan kerentanan atau skala besar.
– Jangan hanya berdiri di satu titik.
– Bergeraklah mencari perspektif berbeda.
– Sesuaikan angle dengan pesan yang ingin disampaikan.

5. Time: Tangkap Momen yang Tepat
Time adalah kunci dalam fotografi jurnalistik. sepersekian detik momen bisa menentukan nilai berita sebuah foto.

Tips:
Gunakan mode burst untuk peristiwa cepat.
Pahami alur kejadian agar bisa memprediksi momen.
Sabar dan jangan terlalu cepat menekan shutter.

Agar metode EDFAT semakin maksimal, seorang fotografer jurnalistik harus menerapkan tips berikut di lapangan:
Datang lebih awal untuk observasi lokasi.

– Buat urutan visual: entire, detail, frame, angle, dan time.
– Jangan hanya mengejar estetika, utamakan etika.
– Hindari manipulasi berlebihan dalam editing.
– Pastikan setiap foto memiliki konteks dan akurasi informasi.

diolah dari berbagai sumber

(Juli Suhaidi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *